HUBUNGAN KRIMINALITAS DENGAN BERBAGAI GEJALA DI MASYARAKAT DAN KRIMINALITAS SEBAGAI HABBIT DAN PROFESSIONAL

HUBUNGAN KRIMINALITAS DENGAN BERBAGAI GEJALA DI MASYARAKAT
DAN KRIMINALITAS SEBAGAI HABBIT DAN PROFESSIONAL
Untuk memenuhi nilai tugas Kriminologi

Disusun oleh ;
Kharisma Ratuprima Semadaria
E 0008052
Kriminologi Kelas A

Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2010
KATA PENGANTAR
Kriminologi merupakan salah satu cabang ilmu Hukum Pidana yang mempelajari keseluruhan ilmu yang berhubungan dengan kejahatan sebagai gejala sosial, yang ruang lingkupnya meliputi perundang-undangan, pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan, pelanggaran terhadap ketentuan perundang-undangan itu terkait pula dengan pelanggarannnya.
Di dalam Kriminologi, terdapat beberapa sub bab yang dipelajari, diantaranya adalah Kriminalitas sebagai Habbit dan Professional dan Hubungan Kriminalitas dengan Berbagai Gejala di Masyarakat. Dalam makalah ini kedua sub bab tersebutlah yang akan dibahas. Sebagai bentuk pemenuhan tugas akhir Mata Kuliah Kriminologi yang diampu oleh Bapak Sabar Slamet.
Tak lupa saya mengucapkan banyak syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT yang telah melancarkan segala proses dalam pembuatan makalah ini, selain itu banyak terimakasih kepada para pihak, orang tua saya Drs. Walkodri, MRS. M.Si dan Siti Rohayati, kakak saya Lenni Yuliaty Semadar dan Aroma Nur Septiani Semadar, adik saya Amelia Meidy Putri Ayu Semadaria, spesial saya Guruh Triadiyoga Charismaputra dan sahabat-sahabat saya Agnane Mahardika Putri, Asri Dwi Utami, Ratna Widianing Putri, Rizki Vina Yurinta dan Yanita Suci Asmarani yang telah memberikan banyak support sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Saya meminta kritik dan saran kepada para pembaca agar dalam makalah maupun penulisan saya yang berikutnya dapat lebih baik lagi. Demikianlah semoga makalah saya ini dapat bermanfaat untuk para pembaca.

Surakarta, 11 juni 2010

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………….…………………… ii
DAFTAR ISI…………………………………..…………….…………………………. iii
PENDAHULUAN…………………………………………….………………………… 1
PEMBAHASAN MATERI…………………………………………….……………….. 2
A. Hubungan Kriminalitas dengan Berbagai Gejala di Masyarakat…………… 2
a. Kriminalitas dan jenis kelamin…………………………………….. 2
b. Kriminalitas dan cacat tubuh………………………………………. 3
c. Keluarga dan hubungan keluarga…………………………………… 4
d. Kriminalitas dan umur……………………………………………… 5
e. Residivis……………………………………………………………. 5
f. Keadaan ekonomi, lapangan kerja dan rekreasi…………………… 5
g. Rekreasi…………………………………………………………….. 6
B. Kriminalitas sebagai Habbit dan Professional……………………………… 6
a. Gerombolan………………………………………………………… 7
b. Pelacuran…………………………………………………………… 8
PENUTUP……………………………………………………………………………… 9
DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………….. 10

I. PENDAHULUAN
Setelah membaca makalah ini pembaca diharapkan dapat memahami bahwa dapat dipikirkan adanya korelasi atau hubungan antara kriminalitas dengan fenomena atau gejala tertentu dan memahami bahwa korelasi yang dipikirkan tersebut harus dijelaskan dan memiliki pendirian bahwa masih terdapat variable-variabel lain yang mungkin belum diperhitungkan. Menjelaskan korelasi antara kriminalitas dengan fenomena tertentu yang terdapat di dalam diri pelaku dan luar pelaku, memberikan ulasan tentang gejala-gejala lain yang mungkin ada korelasinya dengan kriminalitas dengan mendasarkan pada asumsi logis.
Selain itu memahami bahwa ada hubungan timbal balik antara profesi dan kriminalitas dan juga memahami terbentuknya organisasi-organisasi kriminal. Menejelaskan perbedaan antara profesional kriminal dan habitual kriminal, menjelaskan terbentuknya profesionalisme dalam kejahatan, menjelaskan tentang penyebab timbulnya prostitusi, membedakan tanggapan masyarakat terhadap prostitusi dan pelaku kejahatan lainnya.

II. PEMBAHASAN MATERI
C. Hubungan Kriminalitas dengan Berbagai Gejala di Masyarakat
a. Kriminalitas dan jenis kelamin
Berbagai Negara pada tahun 1930-an menunjukkan prosentase wanita yang dijatuhi hukuman pidana berkisar antara 5-12% dan di beberapa Negara lain yang tinggi prosentasenya berada diantara 15-25,5%. Untuk Indonesia dapat dilihat pada statistic narapidana dan tahanan tahun 1971-1976 menunjuk angka 2-3%. Angka tersebut merupakan keseluruhan, dan kalu diperinci ke dalam bermacam-macam delik tertentu, mungkin terrdapat angka yang cukup tinggi pada wanita karena sifat khusus dari deliknya, misalnya abortus.
Telah banyak penjelasan mengenai kenyataan ini diberikan, dan dapat dikelompokkan ke dalam tiga kategori :
1. Sebenarnya kriminalitas yang dilakukan oleh wanita lenih tinggi dari yang ada
Nilai angka statistik yang dikemukakan HURWITZ bahwa prostitusi harus pula dihitung sebagai kriminalitas, dengan demikian maka angka kriminalitas wanita pasti akan meningkat, tetapi kiranya hal ini tidak adil kalau tidak juga mengikutsertakan pria yang terlibat. Mengapa pula hanya WTS (wanita tuna susila) yang harus dituntu tanpa melibatkan PTSnya (pria tuna susila).
2. Kondisi lingkungan bagi wanita ditinjau dari segi kriminologi lebih menguntungkan daripada kondisi bagi pria
Perkawinan merupakan faktor anti irinogen, yang menjadi perdebatan para ahli dan juga wanita dibandingka pria, angka partisipasinya dalam masyarakat lebih rendah.
3. Sifat wanita sendiri membawa pengaruh rendahnya angka kriminalitas
Faktor fisik yang lemah kurang cocok untuk delik-delik agresi, kecuali delik agresi yang dilakukan dengan kata-kata, senjata, peracunan dan sebagainya. Faktor psikis menurut HEYMANS wanita mempunyai variasi yang lebih sempit dalam hal ciri-ciri psikis daripada pria, sehingga baik pada sisi ekstern dari variasi tersebut yang baik maupun buruk jarang terdapat pada wanita.
b. Kriminalitas dan cacat tubuh
Mengenai cacat tubuh ini dapat dibedakan antara yang diderita sejak kelahirannya (walaupun bukan sesuatu yang diwarisi) dan yang diperoleh dalam perjalanan hidupnya, dan yang diperoleh karena pengaruh luar, seperti kecelakaan dan sebagainya.
Dengan demikian, maka angka statistik yang tercatat sulit untuk dapat dipercaya bilamana kita hendak meneliti korelasi antara kriminalitas dengan cacat tubuh itu. Tetapi walaupun demikian berdasarkan studi kasus dan studi secara mendalam dapat pula diperoleh gambaran untuk hal itu. Ternyata seringkali cacat tubuh itu berdampingan dengan penyimpangan psikis. Mungkin ini sebagai akibat dari faktor bakat, tetapi mungkin juga terjadi justru karena pengaruh cacat tubuh maka timbul perubahan psikis.
Cacat tubuh yang mungkin merupakan faktor kriminogen antara lain :
1. Wajah
Penderitaan ini mungkin menimbulkan delik-delik ekonomis, dan khusus untuk pria delik seksual
Karena wajah jelek maka kesempatan untuk memilih pekerjaan menjadi lebih sempit. VON HENTIG mengatakan khususnya untuk wanita, maka karena wajah yang buruk, diperlukan lebih banyak uang untuk mempercantik diri yang dapat mengarah kepada delik ekonomis. Karena wajah jelek, maka tidak dapat menarik lawan jenisnya, karena wajah buruk dan mendapat hinaan atau tolakan, bisa menimbulkan delik seksual.
2. Tuli
Untuk orang bisu tuli dapat diperkirakan bahwa pada awalnya mengurangi kesempatan timbulnya kriminalitas, yaitu pada waktu masih kecil dan disembunyikan oleh keluarganya, tetapi kemudian meningkatkan angka kriminalitas setelah dewasa.
3. Buta
Walaupun kemungkinan dorongan delik agresi besar, yaitu sebagai akibat rasa tersinggung dan sebagainya, tetapi pelaksanaannya menjumpai kesulitan. Untuk orang buta ini “kejahatan” yang dilakukan adalah pengemisan.

c. Keluarga dan hubungan keluarga
1. Situasi keluarga
Keluarga merupakan kelompok terkecil dan yang paling intensif dalam membentuk kebiasaan. Orang tua merupakan kekuasaan yang besar sebagai sarana untuk memaksakan perilaku koniormistis bagi anak-anaknya baik yang masih kecil maupun para remaja, sebelum memisahkan diri sebagai keluarga sendiri. Pengaruh yang diterapkan di dalam keluarga adalah melalui : asosiasi, asimilasi, imitasi dan juga paksaan.
2. Besarnya keluarga
Anggota dari suatu keluarga yang besar lebih banyak kemungkinannya untuk melakukan kriminalitas :
– Keluarga yang besar pada umumnya menderita tekanan ekonomi yang lebih besar daripada keluarga kecil
– Anak-anak kurang mendapatkan waktu untuk memperoleh perhatian dari orang tua
– Kenakalan anak dari keluarga besar tidak banyak perhatian baik orang tuanya maupun masyarakat sekelilingnya
– Kemungkinan untuk berkonflik dengan lingkungan tetangganya lebih besar, demikian pula orang tuanya. Kenakalan seorang anak terhadap anak tetangganya dapat menimbulkan konflik antar tetangga.
Menurut NOACH, keluarga besar, baik untuk orang tua maupun anak-anak merupakan faktor kriminogen. Tetapi anak tunggal mempunyai kemungkinan lebih tinggi untuk menjadi kriminal.
– Menurut perbandingan keluarga yang besar lebih banyak terdapat pada golongan rendah daripada golongan atas
– Pada golongan bawah, keluarga yang besar belum tentu merupakan hal yang memberatkan secara ekonomis
– Karena hubungan masyarakat gotong royong yang kuat
– Konflik-konflik antar tetangga sebagai akibat kenakalan anak juga kurang

d. Kriminalitas dan umur
Pembagian umur berdasarkan angka tahun kiranya kurang tepat, karena pertambahan tidak selalu sama dengan kedewasaan lebih baik kalau pembagian itu berdasarkan stadium dalam kehidupan :
– Masa kanak-kanak, masa remaja, tahun-tahun pertama sebagai orang dewasa
– Masa dewas penuh, dan masa usia lanjut

e. Residivis
Dapat diperkirakan bahwa mereka yang baru mulai untuk pertama kali menjadi kriminal pada usia dewasa, kemungkinan-kemungkinannya menjadi residivis lebih kecil, karena :
– Waktu untuk melakukan kmbali kejahatan atau menjadi residivis relatif pendek
– Pola watak pada masa dewasa telah mantap
– Kriminalitas yang dilakukan dan diketahui orang tidak jarang hanya merupakan masalah kondisi yang kebetulan, dan bukannya kondisi yang berulang
f. Keadaan ekonomi, lapangan kerja dan rekreasi
1. Perubahan besar dalam hal kemakmuran
– Pada individu
– Pada kelompok
2. Kesenjangan kemakmuran
– Pengangguran merupakan salah satu gejala krisis yang dapat meningkatkan kriminalitas
– Pengangguran itu walaupun diperlunak dengan adanya dana bantuan dari pemerintah di berbagai Negara, menimbulkan demoralisasi di kalangan pekerja dan keluarganya
– Bagi para penganggur terasa adanya perbedaan yang menyolok dengan mereka yang kebetulan masih bekerja
3. Lapangan kerja
– Pemilihan lapangan kerja
– Norma lapangan kerja
– Kesempatan yang terdapat dalam lapangan kerja, dibedakan menjadi dua hal :
1) Keterampilan yang diperoleh dalam lapangan kerja memudahkan dilakukannya tindak pidana
2) Lingkungan kerja itu sendiri memberikan kesempatan yang memudahkan tindak pidana
g. Rekreasi
Untuk sepintas terasa agak ganjil, jika rekreasi dikatakan dengan kriminalitas, tetapi kalu dipikirkan lebih mendalam, mungkin juga masalah rekreasi ini menjadi faktor anti-kriminogen dan juga sekaligus faktor kriminogen.
Di Indonesia tingginya kemungkinan kriminalitas yang dilakukan oleh anak tunggal disebabkan karena :
– Anak tunggal kebanyakan dimanjakan, dan orang tua sangat over protective
– Tiadanya saudara-saudara menyulitkan anak untuk menyesuaikan diri sebagai anggota dari suatu kelompok

B. Kriminalitas sebagai Habbit dan Professional

Dengan berpangkal tolak pada frekuensi, orang-orangnya dapat kita bagi menjadi:
1. Mereka yang tidak melakukan perbutan kriminal
2. Mereka yang hanya sekali melakukan perbuatan kriminal
3. Mereka yang lebih dari sekali mlakukan perbuatan kriminal
Dari ketiga kelompok pendirian itu, selanjutnya bab ini hanya akan membicarakan kelompok yang ketiga, yaitu yang disebut residivis.
SUTHERLAND mengatakan sebagai ciri dari penjahat professional adalah : secara teratur setiap hari melakukan persiapan dan pelaksanaan deliknya. Disamping itu SUTHERLAND mempersyaratkan : mereka harus memiliki kemampuan teknik untuk melakukan delik tersebut, memeliharanya dan meningkatkan kemampuan tersebut, juga ada keinginan untuk menjadi terpandang di dalam lingkungan pada delinkuen, serta kemampuan tekniknya ini.
Penjahat profesional adalah mereka yang kegiatannya meliputi mempersiapkan dan melaksanakan perbuatan jahatnya. Penjahat karena kebiasaan, disamping kegiatan mempersiapkan dan melaksanakan delik ini juga masih ada kegiatan lainnya.
Meskipun secara teoritis dapat dibuat pembedaan antara penjahat profesional dan penjahat kebiasaan, dalam praktek sangatlah sulit untuk dilakukan pemisahannya. Hanya dengan studi kasus dapat ditentukan apakah penuntutan dari tiap pelaku kejahatan bahwa ia mempunyai suatu pekerjaan atau melakukan kegiatan yang tidak kriminal secara teratur memang cocok dengan kenyataannya.
Untuk menjelaskan terjadinya pejahat kebiasaan dan penjahat profesional, kita harus kembali pada peristiwa yang terjadi sesudah dilakukannya perilaku kriminal oleh seorang di dalam kehidupannya. Dari situ dapat dibedakan :
1. Perilaku kriminal yang mengakibatkn reaksi dari lingkungannya dan ditujukan kepada pelakunya
Reaksi ini kebanyakan dapat menunjukkan tingkatan yang berada diantara sekedar celaan sampai pada ditolak oleh kelompoknya, walaupun tidak perlu harus terjadi bahwa disamping reaksi kelompok ini juga merupakan reaksi masyarakat dalam bentuk dibawa ke muka pengadilan.
2. Perilaku kriminal yang tidak menimbulkan reaksi semacam itu
Dengan tidak adanya reaksi , maka oleh si pelaku tidak mengetahui bahwa ia telah melakukan perbuatan yang dilarang, atau mendapatkan keyakianan bahwa kelompok ataupun masyarakatnya tidak mempunyai kekuasaan untuk memaksakan normanya.
Disamping kelompok kriminal yang umum, masih ada beberapa lagi yang kriminalitasnya dilakukan di dalam satu atau beberapa daerah, yang terpenting diantaranya adalah ;
1. Gerombolan
Yang dimaksud disini adalah kelompok individu yang bertindak dalam ikatan yang terorganisasi, yang perbuatannya keluar secara relative di dalam ruang lingkup kejahatan dan perilaku. Dan gerombolan ini paling tidak merupakan gekala yang terbatas di dalam zaman modern ini atau terbatas pada satu atau beberapa Negara.
2. Pelacuran
Mengikuti pendapat NORWOOD EAST kita dapat memberikan batasan prostitusi itu sebagai ; hubungan seksual tanpa pilih-pilih dengan mendapatkan pembayaran, ini mengandung arti :
– Tanpa pilih-pilih
Individu yang sudah melacurkan diri hanya dalam hal yang ekstrim saja mempunyai langganan tetap
– Hubungan seksual
Setiap perbuatan yang memuaskan nafsu seksual
– Dengan pembayaran
Biasanya pembayaran material dan bentuk uang

III. PENUTUP
Hampir separo dari buku karangan NOACH “criminologie” memuat hubungan atau korelasi antara kriminalitas dengan berbagai gejala, dalam arti status, keadaan atau peristiwa tertentu.
Di dalam bab Kriminalitas sebagai Habbit dan Professional, kita membicarakan klasifikasi pelaku perbuatan pidana, telah kita jumapai ada beberapa pembagian yang bertitik tolak pada frekuensi dilakukanny delik oleh seseorang. Komisi Presiden untuk penegakan Hukm dan Peradilan di Amerika Serikat mengakui bahwa : kejahatan professional tidak mungkin ada kecuali ada hubungan dengan badan-badan yang resmi, yaitu “fence” dan “fix”.

DAFTAR PUSTAKA

Norwood. 1949. Socirty and the criminal. London
Soemitro. 1989. Krimonologi. Surakarta : Sebelas Maret University Press
Turkus. 1951. New York : Murder Inc
Bahan perkuliahan dari Bapak sabar Slamet
www. Google.com
www. Wikipedia.com

Published in: on Juni 17, 2010 at 05:03  Comments (1)  

The URI to TrackBack this entry is: http://thatsmekrs.wordpress.com/2010/06/17/hubungan-kriminalitas-dengan-berbagai-gejala-di-masyarakat-dan-kriminalitas-sebagai-habbit-dan-professional/trackback/

Umpan RSS untuk komentar-komentar pada pos ini.

One CommentTinggalkan komentar

  1. Mohon kami dikirimi artikel-artikel sekitar ilmu hukum untuk dimuat di http://www.infodiknas.com.
    Terima kasih.

    Rulam Ahmadi
    081333052032


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: