Islam Kontemporer

Islam Kontemporer
Beberapa hari lalu Azyumardi Azra menerima buku suntingan Abdul Aziz Said, Muhammad Abu-Nimer, dan Meena Sharify-Funk berjudul Contemporary Islam: Dynamic, Not Static (Routledge: London & New York, 2006). Menurut beliau Buku ini sangat menarik karena menggambarkan dinamika historis Islam kontemporer di berbagai wilayah dunia Muslim, termasuk di Asia Tenggara melalui tulisan beliau sendiri; tetapi juga pada level pemikiran dan wacana, khususnya menyangkut hubungan antara Dunia Muslim dan Barat.
Buku ini berasal dari konferensi internasional yang bertajuk ‘Contemporary Islamic Synthesis’, yang diselenggarakan di Iskandaria (Alexandria), Mesir, 4-5 Oktober 2003. Konferensi yang dilaksanakan di Perpustakaan Alexandria yang waktu itu baru selesai dibangun kembali sangat simbolik, karena perpustakaan ini selain merupakan salah satu perpustakaan terbesar tertua di muka bumi, tetapi juga mencerminkan keterbukaan dan konvergensi keilmuan dan pemikiran dalam kurun sejarah yang panjang. Peradaban kontemporer turut berutang kepada Perpustakaan Alexandria yang juga menyimpan dan meneruskan warisan ilmu pengetahuan kepada generasi kita sekarang.
Konferensi Alexandria, seperti dicatat para editor lewat pengantar mereka dalam buku Contemporary Islam ini, menegaskan bahwa Islam bukanlah sekadar sekumpulan doktrin teologis dan ritual, tetapi juga dinamika historis yang dinamis. Sebagai sebuah dinamika historis, Islam sangat sering menunjukkan diri sebagai entitas inklusif yang ramah dan toleran kepada entitas-entitas lain yang juga berkembang sepanjang sejarah.
Lebih jauh, Islam sebagai dinamika historis menunjukkan kekayaan luar biasa. Di tengah dinamika historis memang perlu ditegaskan kembali esensi-esensi teologis pokok, seperti tauhid Allah SWT, kenabian Muhammad, i’jaz Alquran, dan sebagainya. Namun, dinamika historis tersebut juga dapat menjadi bahan dasar penting bagi sintesis-sintesis Islam untuk menjawab tantangan zaman.
Dinamika historis memang menuntut penghadiran berbagai respons Islam terhadap situasi lingkungannya yang terus berubah. Karena itu, kaum Muslimin dan umat-umat lainnya, dalam dinamika sejarah bisa menyaksikan terjadinya kesinambungan dan konvergensi di tengah perubahan. Semua perubahan yang positif dan kontributif bagi peradaban Islam terjadi berkat keterbukaan dan kesediaan kaum Muslimin sendiri menyerap berbagai hal positif di luar tradisi mereka.
Karena itu, pengakuan pada berbagai tradisi di luar Islam dan kaum Muslimin sendiri merupakan sebuah keniscayaan. Pengakuan tersebut bahkan merupakan prasyarat krusial bagi setiap masyarakat yang berkeinginan dan berusaha merespons secara tepat berbagai perubahan yang tidak bisa dielakkan manusia dan peradabannya di masa kini dan mendatang. Dalam perspektif ini, sejarah Islam dan kaum Muslimin pada dasarnya merupakan usaha-usaha tak pernah berhenti bagi kaum Muslimin sendiri untuk memahami cita-cita Alquran guna selanjutnya mewujudkannya ke dalam realitas kehidupan.
Namun, perubahan-perubahan yang luas dan berdampak panjang juga menimbulkan kecemasan bagi sebagian kaum Muslimin. Dan ini mendorong mereka untuk kembali kepada apa yang mereka sebut sebagai ‘Islam otentik’ yang ironisnya justru tertutup dan menegasikan berbagai hal di luar Islam, yang mereka pandang sebagai ancaman terhadap ‘Islam otentik’.
Cara pandang seperti ini jelas sangat kontraproduktif karena dalam kerangka itu, Islam dipandang hanya sebagai doktrin teologis dan doktrinal abstrak, yang jauh dari persentuhan dan realitas historis. Pandangan dan konsepsi inilah yang akhirnya mengantarkan kaum Muslim ke dalam situasi dan kondisi statis, yang mengakibatkan terjadinya ‘fragmentasi’ sosial dan intelektual. Jadinya upaya-upaya memperbaiki keadaan dan kenestapaan kaum Muslimin dewasa ini lebih didorong formula-formula ideologis-religius yang cenderung simplistik daripada rumusan-rumusan atas kajian berbagai realitas sosio-historis konkret.
Padahal, salah satu distingsi Islam, seperti ditegaskan kembali melalui Konferensi Alexandria, adalah keterbukaan yang mampu tidak hanya mengakomodasi berbagai fenomena dan produk peradaban lain yang bermanfaat bagi kemajuan peradaban manusia secara keseluruhan, tetapi juga dapat hidup berdampingan secara kreatif dengan peradaban-peradaban lain.
Hidup berdampingan secara damai (creative co-existence), jelas bisa dicapai hanya jika para representasi peradaban-peradaban yang dominan mau meninggalkan pandangan-pandangan yang memecah belah tentang ‘keunggulan kultural’ (cultural triumphalism). Triumphalism adalah pernyataan sepihak dari pendukung kultural manapun yang mengklaim bahwa hanya pihaknya sajalah yang paling unggul di atas segala pihak lain. Triumphalism seperti ini pada ujungnya hanya akan mengantarkan umat manusia ke dalam ‘perbenturan peradaban-peradaban’, yang jelas tidak kita hendaki.
Sumber: Republika Online, 3 Agustus 2006

Published in: on Juni 17, 2010 at 04:58  Comments (2)  

The URI to TrackBack this entry is: https://thatsmekrs.wordpress.com/2010/06/17/islam-kontemporer/trackback/

RSS feed for comments on this post.

2 KomentarTinggalkan komentar

  1. kajiannya oke ! saran saya ; kajian dinamika islam kontemporer itu harus dikaitkan dengan kondisi kehidupan diindonesia

  2. siip banget


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: