MASYARAKAT FLORES

MASYARAKAT FLORES
Disusun untuk Memenuhi Tugas Antropologi Budaya

Disusun oleh :
Kharisma Ratuprima Semadaria
E0008052
KELAS B

Fakultas Hukum
Universitas Sebelas Maret
Surakarta
2008
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kebudayaan merupakan suatu sistem. Menurut W.J.S. Purwodarminto yang dimaksud ialah sekelompok bagian-bagian ( alat-alat dan sebagainya ) yang bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu maksud. Kebudayaan dari setiap masyarakat merupakan suatu sistem yang terdiri dari unsur-unsur besar atau kecil yang merupakan bagian-bagian dari suatu kebulatan yang bersifat kesatuan. Masyarakat dan kebudayaan adalah suatu kesatuan tak terpisahkan. Setiap masyarakat menghasilkan kebudayaan dan setiap kebudayaan pasti ada di dalam masyarakat. Masyarakat dan kebudayaan merupakan dwitunggal yakni masyarakat adalah orang yang hidup bersama yang tak berkebudayaan dan sebaliknya tak ada kebudayaan tanpa masyarakat sebagai wadah dan pendukungnya.
Sedangkan unsur-unsur pokok dari kebudayaan seperti yang dikemukakan C. Kluckhohn dalam bukunya Universal Categories of Culture menguraikan pandangan-pandangannya, antara lain :
a. Peralatan dan perlengkapan hidup manusia
b. Bahasa
c. Kesenian
d. Sistem kemasyarakatan
e. Sistem pengetahuan
f. Religi ( sistem kepercayaan )

Mengenai kebudayaan, Indonesia khususnya di bagian timur, membedakan orang Flores dengan Ambon, Tanimbar. Ternate atau Timor maupun Sumba, agak sulit kalau yang bersangkutan belum menyebutkan dari mana asal suku bangsanya. Secara fisik suku bangsa-suku bangsa ini memiliki ciri umum yang hampir sama. Tetapi secara etnis rnereka mempunyai perbedaan-perbedaan.
Dalam makalah ini, kita akan meninjau kehidupan masyarakat di pulau Flores, salah satu pulau dari gugusan kepulauan di Nusa Tenggara.
Berbicara tentang masyarakat Flores berarti meliputi juga masyrakat di pulau-¬pulau sekitarnya, yakni pulau Lembata, Adonara, Solor, dan Palue.
Ciri khas masyarakat Flores di perantauan lebih nampak pada kesamaan religi, karena sebagian besar penduduknya beragam katolik. Di pulau Flores terdapat berbagi macam suku bangsa. Masing-masing suku bangsa tersebut menunjukkan kekhasannya.
Selaln 1tu masih ada sub-sub suku bangsa yang lebih kecil, namun tetap menunjukkan kekhasan. Misalnya orang Muhan, orang Tana ai, orang Ende, dan juga orang-orang Wajo, Bugis, atau Makasar yang mendiami pulau-pulau di sebelah utara pulau Flores dan daerah pesisir.
Pada umumnya masyarakat pendatang seperti orang Makasar, Wajo, atau. Bugis tersebut memeluk agama Islam.

B. Tujuan
Pembuatan makalah ini bertujuan untuk :
1) Memenuhi tugas akhir mata kuliah Antropologi Budaya yang diampu oleh Ibu Andri
2) Tambahan pengetahuan bagi siapa saja yang ingin menimba ilmu dari. kehidupan di masyarakat Flores ini.
3) Sebagal refernsi bagi siapa saja dalam berbagai hal. Tidak menutup kemungkinan dari bidang ilmu yang lain.

BABII
PEMBAHASAN
a. Bahasa
Perbedaan suku bangsa di pulau Flores terutama ditandai dengan perbedaan bahasa di antara suku bangsa-suku bangsa tersebut. Perbedaannya bukan sekedar perbedaan dialek, tetapi hampir seluruh aspek bahasanya.
Bahasa-bahasa yang digunakan antara lain :
1. Bahasa Manggarai untuk suku bangsa Manggarai.
2. Bahasa Bajawa untuk suku bangsa Ngada
3. Bahasa Riung untuk suku bangsa Riung
4. Bahasa Lio, dengan beberapa dialek seperti dialek Ende, dialek Lise, Nggela dan lain-lain digunakan oleh suku bangsa Lio.
5. Bahasa Sikka untuk suku bangsa Sikka dan sebagian masyarakat kabupaten Flores Timur terutama suku Tana ai.
6. Bahasa Lamaholot untuk orang Larantuka, Lembata, Adonara, dan Solor.
7. Bahasa Melayu untuk orang Larantuka ( dialek Melayu Larantuka )
8. Bahasa Nage Keo untuk suku bangsa Nage Keo.
9. Bahasa Palue untuk suku bangsa Palue.
10. Bahasa-bahasa lain seperti bahasa Bugis, Wajo, atau Makasar yang dipakai di pulau-pulau di sebelah utara pulau Flores dan daerah pesisir.
b. Pola Perkampungan
Perkampungan suku bangsa Nage, Keo, Lio, Sikka dan di Flores Timur biasanya dibuat diatas bukit. Nama-nama perkampungan sering diawali dengan nama keadaan tempat, misalnya Wolo atau Keli yang berarti bukit. Juga Watu yang berarti batu. Jika perkampungan terletak di pinggir sungai, maka nama tempat sering diawali dengan kata ” wai ” yang berarti sungai atau Nanga, yang berarti muara. Perkampungan di pantai erring diawali dengan nama awal ” mau” yang berarti pantai.
Banyak perkampungan yang letaknya di bukit-bukit, jauh dari sumber air. Orang harus menempuh jarak sampai lebih dari sepuluh km untuk mengambil air minum. Pola perkampungan seperti ini sering dikaitkan dengan kemungkinan perang antar kampong pads jaman dahulu.
c. Rumah
Rumah khas di Flores adalah rumah panggung beratap alang-alang atau ijuk. Pada jaman dahulu, rumah bukan hanya ditempati oleh satu keluarga batih saja, tetapi oleh beberapa batih yang masih dalam satu klen. Orang Manggarai, Ngada dan Nage Keo sering melengkapi rumah mereka dengan hiasan tanduk kerbau yang juga merupakan lambang status soslalnya. Makin tinggi status sosialnya makin banyak tanduk kerbau yang dipajang di depan rumah mereka. Rumah¬-rumah khas di Flores akhir-akhir ini berangsur-angsur hilang diganti dengan rumah-rumah tembok yang sesuai dengan keadaan jaman sekarang.

d. Sistem Kekerabatan
Hampir semua suku bangsa di Flores menganut system patrilineal. Yang menyambung silsilah adalah garis keturunan ayah, sedang dari pihak ibu hanya terdapat hubungan famili atau keluarga terdekat, bukan hubungan yang terkait dengan adat istiadat.
1. Pembagian warisan
Pada umumnya suku bangsa-suku bangsa di Flores menganut system patrilineal. Anak laki-laki mendapatkan harta warisan orang tuanya, kecuali suku bangsa Ngada. Orang Ngada mengenal system matrilineal dalam hal pembagian warisan. Seorang anak laki-laki suku bangsa Ngada akan bangga apabila ibunya mempunyai tanah atau harta yang banyak. Orang Sikka menganut system patrilineal dengan prioritas anak sulung. Maka anak sulung selalu mendapatkan bagian yang lebih banyak dari yang lainnya. Pada jaman dahulu, di Sikka selaku sebuah system pembagian warisan menurut garis paman. Sebagian anak-anak ayah tidak langsung menjadi milik orang tuanya, tetapi menjadi milik pamannya.
Pembagian warisan di pulau Flores terutama meliputi tanah dan perhiasan. Orang Sikka, Larantuka,Soor, Adonara. dan Lembata jugs membagi warisan berupa gading (gajah). Sedangkan orang Lio, Ngada, Manggarai, dan Nage Keo selain membagi tanah juga hewan temak, seperti kuda, kerbau dan lain-lain. Anak perempuan dapat memperoleh harta warisan, jika tidak mempunyai saudara laki¬-laki. Kelak harta warisan ini dilelola oleh suaminya dan kemudian diwariskan kepada saudara laki-lakinya.
2. Perkawinan
Bertunagan bagi orang Flores berarti juga menyelesaikan segala macam kewajiban yang harus dipenuhi calon suami. Setelah meminangdidakan permufakatan tentang beberapa mas kawin yang harus dipenuhi calon suami. Istilah umum mas kawin di Flores adalah “Belis” yang bagi beberapa suku memiliki kesamaan tetapi ada juga perbedaannya. Beberapa wujud “Belis” :
• Orang Manggarai dan Riung :kuda, kerbau, emas atau uang.
• Orang Ngada, Liodan Nage Keo : babi,kerbau, kuda, emas, dan uang. Orang Sikkan : kuda, gading,emas dan uang.
• Orang Larantuka dan pulau di sekitamya : gading, emas, uang dan perhiasan lainnya.
Upacara perkawinan sendin tidak lepas dari upacara keagamaan sesuai dengan keyakinan masing-masing yang menjalankan ritual pernikahan.
Kemampuan ekonomi calon suami menjadi tolak ukur kemampuan berumah tangga. Maka tidak jarang upacara perkawinan ditunda karena calon suami belum siap.
Beberapa larangan yang harus dipatuhi masyarakat Flores dalam masalah perkawinan lebih dititik beratkan pada larangan agama katolik, misalnya tidak boleh kawin dengan saudara terdekat, baik dari pihak ayah maupun ibu. Jaman dahulu anak paman (anak saudara ibu) masih boleh dikawinkan dengan anak lelaki ibu. Tetapi hal itu berangsur-angsur hilang sejalan dengan ajaran agama. Sekarang berlaku Kindred. Kemudian contoh yang lain, tidak boleh kawin lebih dari satu kali, kecuali isteri atau suaminya sudah meninggal dunia.
Beberapa masalah perkawinan di Flores :
a) Calonsuami yang tidak berhasil memenuhi semua tuntutan belis dari pihak wanita kadang-kadang melakukan kawin lari.
b) Jika kawin lebih dari satu, maka anak yang dilahirkan tetap dianggap oleh masyarakat sebagai anak haram. Kepada anak tersebut sang ayah wajib menyerahkan sebidang tanah.
c) Bila perkawinan tidak direstui pihak orang tua , terutama pihak wanita, maka dalam jangka waktu tertentu mereka harus kembali ke orang tua dengan membawa belis. Tetapi hal itu bukan kewajiban mutlak.
d) Pada umumnya orang beranggapan bahwa belis merupakan salah satu syarat perkawinan yang rumit, boros, dan tidak membangun. Usaha untuk mengurangi atau menghilangkan sulit karena terbentur pads adat-istiadat yang sudah mendarah daging.
Seorang wanita yang telah kawin di pulau Flores tidak selamanya masuk ke dalam klen suami. Beberapa suku bangsa seperti orang Manggarai, Sikka dan Lio mengenal virilokal yakni isteri pindah ke tempat tinggal suami.Jika belis belum dilunaskan, maka berlaku system Uxorilokal atau dikenal dengan istilah “kawin masuk” (suami tinggal bersama keluarga isteri)
e. Agama ( religi )
Sebagian besar masyarakat Flores beragama Katolik yang berkembang di pulau Flores sejak abad ke-16. Penyebarannya adalah melaui misionaris-misionaris yang berasal dari Portugal.
Meskipun demikian, unsur keyakinan asli masih mewarnai kehidupan beragama. Orang Flores yakin bahwa sesudah manusia meninggal masih melanjutkan kehidupannya, di alam lain yang mereka kenal dengan “alam Nitu”. Pada alam ini segala sesuatunya serba terbalik. Ketika di bumi siang, maka disana malam atau sebaliknya. Segala wadah (alai-alai makan dan minuet) selalu digunakan dengan posisi terbalik.
Manusia akan mengalami kematian sampai tujuh kali. Pada setiap kali kematian, ia akan mencapai tingkat yang lebih rendah, sampai pads tingkat ke tujuh, ia akan diuji dengan melalui sebuah titian. Jika ia berhasil melaluinya, maka ia akan selamat. Tetapi bila tidak berhasil ia akan jatuh pada kuali besar yang berisi air yang mendidih.
Orang Flores mengenal upacara kematian dengan berbagai macam bentuk dan cara. Terutama selamatan setelah meninggal dunia. Potong babi pada saat orang meninggal dunia merupakan suatu keharusan. Kemudian dilanjutkan selamatan sesudah hari ke-3 atau 4 hari minggu ke-3 (sumana telu), minggu ke-7 (sumana tujuh ). Penguburan orang meninggal biasanya dilakukan dengan peti berpakaian lengkap. Bahkan kadang-kadang orang yang meninggal dilengkapi dengan perbekalan lain terutama pakaian yang disobek sedikit bagian pinggirnya.
Keyakinan akan Yang Maha Kuasa dikenal dengan beberapa nama atau bentuk. Misalnya orang Manggarai menyebutnya dengan Mori Kareng, orang Sikka dengan Lero Wulan, orang Lio dengan Dua Nggae, dan lain-lain.
Percaya pada tahayul, seperti adanya hantu, peri, roh, jahat, roh orang-orang meninggal yang gentayangan, magi, doti (semacam racun dari jarak jauh), tempat-tempat keramat dan lain-lain, masih mewarnai masyarakat Flores hingga saat ini.
Selain agama Katolik , terdapat pula agama-agama yang lain, terutama Islam. Agam Islam terutama dianut oleh masyarakat pesisir dan sebagian kecil suku bangsa Riung dan orang Ende. Kebanyakan penduduk yang beragama Islam adalah penduduk yang berasal dari Makasar, Bugis, Wajo, Bone atau Bima.

f. Mata Pencaharian
Didaerah bagian barat dan tengah pulau Flores masih dijumpai cara bercocok tanam di ladang.Pertanian dengan irigasi yang baik dimiliki oleh orang Manggarai dan Ngada dan sebagian orang Lio. Sementara orang Sikka lebih mengandalkan pada tanaman kelapa sebagai tanaman perdagangan.
Di Palue dan beberapa daerah pedalaman lain, masih terdapat masyarakat yang pandai berburu dengan busur dan panah yang khas.
Pemburu ikan paus terdapat di Halmahera, pulau Lembata. Mereka menggunakan perahu tradisional bernama “paledang”.
Masyarakat di Flores Timur, seperti orang Adonara, Solor, Lomblem, Larantuka dan jugs sebagian orang Sikka terkenal sebagai masyarakat perantau. Tujuan perantauan mereka terut bahkan ada yang bersifat musiman. Setelah satu atau dua tahun mereka kembali berkumpul dengan isteri dan anaknya kemudian kembali ke perantauan.

g. Kerajinan Rakyat
Seni ikat dan tenun merupakan kerajinan utama kaum wanita di pulau Flores. Orang Manggarai menenun kain songket. Orang Ende-Lio, orang Sikka, Larantukadan Adonara menenun kain sarung dengan berbagai macam corak seni ikat. Sebelum tekstil dan pewarna lain dikenal, mereka menggunakan nila dan mengkudu sebagai bahan pewarna pokok.

h. Kesenian
Berbagai bentuk “tandak” atau tarian misal dalam bentuk setengah lingkaran atau lingkaran penuh merupakan tarian pergaulan umum di pulau Flores. Orang Lio menyebutnya Gawi, orang Sikka mengatakan Togo, dan orang Larantuka serta Adonara mengenalnya dalam bentuk tarian Dolo-dolo. Tarian yang lain adalah Caci di Manggarai, yaitu semacam tari adu ketangkasan, jugs tari Bebing dan Hegong dari Sikka.
Alat musik tradisional selalu mempunyai unsur Gong dan gendang. Khusus orang Larantuka dan Adonara mengenal Gambus. Orang Sikka mempunyai Letor (semacam kolintang) dan Hitek (semacam siter) yang terbuat dari bambu.

BABIII
KESIMPULAN
Dari uraian yang telah disampaikan diatas, dapat disimpulkan bahwa :
1. Ciri khas masyarakat Flores di perantauan lebih nampak pada kesamaan religi, karena sebagian besar penduduknya beragam katolik.
2. Perbedaan suku bangsa di pulau Flores terutama ditandai dengan perbedaan bahasa di antara suku bangsa-suku bangsa tersebut. Perbedaannya bukan sekedar perbedaan dialek, tetapi hampir seluruh aspek bahasanya.
3. Perkampungan diberi nama menurut nama keadaan tempat.
4. Rumah khas di Flores adalah rumah panggung beratap alang-alang atau ijuk.
5. Pada umumnya suku bangsa-suku bangsa di Flores menganut system patrilineal. Anak laki-laki mendapatkan harta warisan orang tuanya, kecuali suku bangsa Ngada.
6. Mata pencahariannya meliputi bidang pertanian, perdagangan, dll.
7. Kerajinan yang digeluti ialah seni ikat dan tenun.
8. Kesenian dengan alat musik yang berunsur gong dan gendang. Kesimpulan tersebut merupakan kesimpulan yang ditarik secara umumnya.

DAFTAR PUSTAKA
Drs. Nursal Luth dan Drs. Daniel Fernandez. Sosiologi dan Antropologi II. Jakarta: PT. Galaxy Puspa Mega . 1989
http://www.google.com
http://www.wikipedia.com
Indra, Wahyuni. Makalah Enkulturasi Budaya. Yogyakarta:2003

Published in: on Juni 17, 2010 at 04:59  Tinggalkan sebuah Komentar  

The URI to TrackBack this entry is: https://thatsmekrs.wordpress.com/2010/06/17/masyarakat-flores/trackback/

RSS feed for comments on this post.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: